Di tengah dunia yang bergerak serbacepat, di mana produktivitas diukur dari seberapa sibuk kita menatap layar, berhenti sejenak sering kali dianggap sebagai sebuah kemunduran. Kita dipaksa untuk terus berlari, mengejar target, dan mengonsumsi informasi tanpa henti. Namun, apakah semua kecepatan ini benar-benar membuat kita hidup? Jika Anda mulai merasa jenuh dengan hiruk-pikuk keduniawian yang menuntut segalanya, buku " Filosofi Jalan Kaki: A Philosophy of Walking " karya Frédéric Gros adalah sebuah oase yang Anda butuhkan. Buku yang diterbitkan dalam versi Indonesia oleh Renebook ini bukan sekadar panduan kesehatan atau catatan perjalanan. Lebih dari itu, Frédéric Gros mengajak kita melihat sebuah aktivitas paling banal dan sederhana dalam hidup manusia—berjalan kaki—sebagai sebuah tindakan spiritual dan filosofis yang membebaskan. Mari kita bedah mengapa buku ini sangat layak masuk ke dalam daftar bacaan wajib Anda tahun ini. Sinopsis Buku "A Philosophy of Walking...
Pernahkah Anda terbangun di sepertiga malam, bukan untuk salat tahajud, melainkan karena kepala mendadak bising oleh pikiran-pikiran buruk? Atau, apakah Anda sering merasa cemas secara berlebihan mengenai masa depan yang belum tentu terjadi? Di era modern yang serba cepat ini, overthinking (memikirkan sesuatu secara berlebihan) dan kecemasan seolah telah menjadi "sahabat karib" bagi banyak orang. Sayangnya, tidak sedikit yang menganggap bahwa gangguan kesehatan mental seperti ini semata-mata karena seseorang kurang beriman atau jarang beribadah. Benarkah demikian? Jika Anda sedang mencari jawaban sekaligus penawar bagi kegelisahan hati yang tak kunjung usai, buku "Peta Jiwa: Self-healing Islami untuk Overthinking dan Kecemasan" karya Ummu Balqis hadir sebagai kompas yang Anda butuhkan. Mari kita bedah bersama mengapa buku terbitan Quanta (Elex Media Komputindo) ini wajib masuk ke dalam daftar bacaan wajib Anda tahun ini. Memahami "Titik Terendah" Mela...