Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu
Pernahkah Anda merasa 24 jam dalam sehari itu tidak pernah cukup? Kita sering merasa lelah padahal belum melakukan banyak hal produktif. Scroll media sosial sebentar, tiba-tiba sudah satu jam berlalu. Jika Anda merasa "sakit" karena manajemen waktu yang berantakan, maka buku "Kisah Para Ulama Terdahulu Mengelola Waktu" karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah adalah obatnya.
Buku ini bukan sekadar buku teori manajemen waktu ala korporat modern. Ini adalah kumpulan potret nyata tentang bagaimana manusia-manusia pilihan menghargai setiap detik waktu mereka demi ilmu dan umat.
Mengapa Waktu Begitu Berharga bagi Ulama?
Dalam pengantarnya, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menekankan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Jika uang hilang, kita bisa mencarinya lagi. Namun, jika sedetik waktu berlalu, ia tidak akan pernah kembali sampai hari kiamat.
Ulama terdahulu melihat waktu sebagai amanah. Mereka tidak mengenal istilah "nongkrong kosong" atau "gabut". Bagi mereka, setiap tarikan napas harus bernilai ibadah atau ilmu. Membaca buku ini akan membuat kita merasa "tertampar" sekaligus terinspirasi dengan standar produktivitas mereka yang luar biasa.
Kisah-Kisah yang Menggetarkan Hati
Salah satu kekuatan buku ini adalah penyajian kisahnya yang singkat namun padat. Berikut adalah beberapa poin menarik yang dibahas:
1. Membaca Sambil Makan
Ada ulama yang meminta keluarganya untuk menyuapinya makanan agar tangannya tetap bisa digunakan untuk menulis, atau matanya tetap bisa membaca kitab. Mereka menganggap waktu mengunyah makanan terlalu berharga jika dilewatkan tanpa asupan ilmu.
2. Menulis Ratusan Ribu Lembar
Pernahkah Anda membayangkan seseorang menulis ribuan jilid buku dalam satu masa hidup tanpa komputer atau mesin ketik? Buku ini menceritakan bagaimana konsistensi para ulama seperti Imam Ibnu Jarir ath-Tabari atau Ibnu Al-Jauzi menulis buku.
3. Belajar di Tengah Perjalanan
Bagi para ulama, perjalanan jauh (safar) bukan berarti liburan total. Mereka memanfaatkan waktu di atas tunggangan untuk menghafal hadits atau mengulang hafalan Al-Qur'an. Tidak ada celah bagi waktu yang terbuang percuma.
Apa yang Bisa Kita Pelajari di Era Digital?
Membaca buku ini di tahun 2026 mungkin terasa kontras. Kita punya teknologi, tapi konsentrasi kita sering terpecah (distraksi). Buku ini menawarkan solusi spiritual dan mental:
* Keberkahan Waktu: Ulama terdahulu bisa melakukan banyak hal karena waktu mereka diberkahi oleh Allah. Keberkahan muncul dari niat yang tulus dan menjauhi hal yang sia-sia.
* Disiplin Tinggi: Mereka memiliki jadwal yang sangat ketat antara ibadah, mengajar, dan menulis.
* Prioritas: Mereka tahu mana yang urgent untuk akhirat dan mana yang hanya kesenangan duniawi sesaat.
Kelebihan Buku Ini
* Gaya Bahasa yang Menyentuh: Meskipun ini buku terjemahan, diksinya tetap enak dibaca dan tidak kaku.
* Referensial: Penulisnya, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, adalah seorang ulama besar yang sangat teliti dalam menukil riwayat. Jadi, kisah-kisah di dalamnya memiliki dasar yang kuat.
* Sangat Memotivasi: Cocok dibaca saat kita sedang kehilangan semangat (futur) dalam belajar atau bekerja.
Kekurangan
Mungkin bagi pembaca awam, beberapa kisah terasa "ekstrem" dan sulit diterapkan secara harfiah di zaman sekarang. Namun, intisari yang ingin disampaikan bukanlah agar kita tidak tidur sama sekali, melainkan agar kita memiliki kesadaran terhadap waktu yang kita miliki.
Buku ini wajib dibaca oleh:
* Mahasiswa dan Pelajar yang merasa sulit fokus belajar.
* Pekerja Profesional yang ingin mencari makna produktivitas di luar sekadar mengejar target KPI.
* Orang Tua yang ingin memberikan teladan tentang menghargai waktu kepada anak-anaknya.
Buku ini bukan sekadar bacaan, tapi cermin. Saat membacanya, kita akan bertanya pada diri sendiri: "Kebaikan apa saja yang sudah saya lakukan hari ini?" Jika Anda ingin berubah dari pribadi yang hobi menunda-nunda menjadi pribadi yang produktif dan berkah, buku ini adalah titik mulainya.

Komentar
Posting Komentar