Jejak Intelektual: 3 Tokoh Nasional Tempo Dulu yang Gemar Baca Buku
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana para pendiri bangsa ini merumuskan konsep Indonesia di tengah keterbatasan teknologi abad ke-20? Jawabannya bukan di layar gawai, melainkan di tumpukan kertas yang menguning.
Bagi para tokoh nasional tempo dulu, buku bukan sekadar penghias rak. Buku adalah senjata, pelarian, sekaligus kompas moral. Kegemaran membaca inilah yang membentuk ketajaman berpikir dan karakter baja mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Mari kita mengintip "perpustakaan pribadi" tiga raksasa sejarah Indonesia yang dikenal sebagai bibliofil sejati.
1. Mohammad Hatta
Jika ada tokoh yang paling layak menyandang gelar "Pecinta Buku Sejati", orang itu adalah Mohammad Hatta. Sang Proklamator ini memiliki hubungan yang sangat emosional dengan koleksi literaturnya.
* Mahar Berupa Buku: Saat menikah dengan Rahmi Rachim, Bung Hatta memberikan maskawin berupa buku karangannya sendiri, Alam Pikiran Yunani. Ini membuktikan bahwa bagi Hatta, ilmu pengetahuan adalah harta paling berharga yang bisa diberikan kepada orang tercinta.
* 16 Peti di Pengasingan: Ketika dibuang oleh Belanda ke Digul dan Banda Neira, Hatta tidak membawa kemewahan. Ia membawa 16 peti berisi buku. Baginya, raga boleh terpenjara, tapi pikiran harus tetap berkelana lewat barisan kata.
* Kutipan Ikonik: Beliau pernah berujar, "Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas."
Hatta mengajarkan kita bahwa membaca adalah cara terbaik untuk menjaga kewarasan dan integritas, bahkan di situasi tersulit sekalipun.
2. Sutan Sjahrir
Si "Kancil", julukan bagi Sutan Sjahrir, adalah sosok intelektual yang sangat disegani di kancah internasional. Perdana Menteri pertama Indonesia ini dikenal karena gaya berpikirnya yang modern dan diplomasi yang tajam.
Sjahrir sangat menyukai sastra Barat, filsafat, dan musik klasik. Di dalam surat-suratnya yang dibukukan dalam Renungan Indonesia, kita bisa melihat betapa luas cakrawala bacaannya. Ia membaca karya-karya Dante, Goethe, hingga Marx bukan untuk sekadar pamer, melainkan untuk memahami anatomi dunia.
Bagi Sjahrir, membaca buku adalah alat untuk emansipasi diri. Ia percaya bahwa bangsa yang merdeka harus diisi oleh individu-individu yang merdeka secara pemikiran.
3. Haji Agus Salim
Beliau adalah bukti nyata bahwa membaca buku bisa menjadikan seseorang "manusia dunia". Beliau menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing dengan fasih. Dari mana keahlian itu berasal? Tentu saja dari ketekunannya melahap literatur dalam bahasa aslinya.
Agus Salim dikenal karena kecerdasannya dalam berdebat. Ia mampu mematahkan argumen lawan dengan logika yang runtut dan humor yang cerdas. Semua itu bersumber dari ribuan buku yang ia baca, mulai dari kitab agama, politik, hingga sejarah dunia. Beliau membuktikan bahwa literasi adalah kunci diplomasi.
Mengapa Kita Perlu Meniru Mereka?
Di era digital saat ini, tantangan kita bukan lagi kurangnya informasi, melainkan banjir informasi (information overload). Meniru kegemaran membaca tokoh nasional ini sangat relevan karena:
* Membangun Kedalaman Berpikir: Buku (terutama buku fisik atau e-book panjang) melatih otak untuk fokus dan berpikir mendalam (deep thinking), sesuatu yang mulai hilang karena kebiasaan membaca caption singkat.
* Meningkatkan Empati: Melalui biografi atau sastra, kita belajar melihat dunia dari perspektif orang lain, persis seperti yang dilakukan para pahlawan kita saat mempelajari penderitaan rakyat.
* Kemandirian Intelektual: Agar tidak mudah termakan hoaks, kita butuh basis data pengetahuan yang kuat di dalam kepala.
Catatan Penting: Para tokoh bangsa ini tidak hanya membaca satu genre. Mereka melahap sejarah, ekonomi, filsafat, hingga sastra. Diversitas bacaan inilah yang membuat solusi-solusi mereka untuk bangsa bersifat holistik.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Membaca buku adalah investasi yang paling murah namun berdampak paling besar. Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim telah memberikan cetak biru bahwa untuk membangun sebuah negara yang besar, diperlukan fondasi literasi yang kuat.
Sudahkah Anda membaca buku hari ini? Jangan biarkan rak buku Anda hanya menjadi pajangan. Mulailah dari satu bab sehari, dan siapa tahu, dari sana lahir ide-ide besar untuk kemajuan Indonesia ke depan. (@)

Komentar
Posting Komentar