Rahasia Kenapa Kita Sering Membeli Buku Tapi Tidak Membacanya?
Pernahkah Anda berdiri di depan rak buku, menatap deretan sampul yang masih mengkilap, lalu menyadari bahwa Anda tidak ingat kapan terakhir kali membuka salah satunya? Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena menumpuk buku tanpa sempat membacanya ternyata memiliki nama yang cukup puitis dari Jepang: Tsundoku.
Dalam artikel ini, kita akan membedah mengapa kebiasaan ini terjadi, sisi psikologis di baliknya, dan mengapa memiliki "perpustakaan pribadi yang belum terbaca" sebenarnya bukan hal yang buruk.
Apa Itu Tsundoku?
Secara etimologis, Tsundoku berasal dari gabungan beberapa kata dalam bahasa Jepang. Tsunde-oku berarti membiarkan sesuatu menumpuk, dan doku berasal dari kata kerja membaca. Istilah ini muncul sejak zaman Meja (1868–1912) dan awalnya digunakan sebagai sindiran halus bagi para guru yang memiliki banyak buku tetapi jarang membacanya.
Namun, di era modern, Tsundoku bergeser menjadi identitas bagi para pencinta buku. Berbeda dengan bibliomania yang cenderung bersifat obsesif-kompulsif untuk mengoleksi buku langka demi nilai materialnya, Tsundoku lebih kepada niat tulus untuk membaca yang belum terealisasi karena keterbatasan waktu atau energi.
Mengapa Kita Melakukannya? (Analisis Psikologis)
Ada alasan ilmiah mengapa menekan tombol "Checkout" di toko buku daring terasa begitu memuaskan, meski tumpukan buku di meja samping tempat tidur sudah setinggi menara.
1. "The Fantasy Self" (Diri yang Kita Impikan)
Kita sering membeli buku bukan untuk diri kita yang sekarang, melainkan untuk sosok ideal yang kita inginkan di masa depan. Kita membeli buku tentang filsafat berat atau manajemen investasi karena kita ingin menjadi orang yang cerdas dan disiplin. Buku tersebut adalah simbol aspirasi.
2. Dopamin Saat Membeli
Proses berburu buku memberikan lonjakan dopamin yang instan. Sensasi menemukan judul yang menarik, tekstur kertas, dan aroma buku baru memberikan kepuasan yang sering kali lebih besar daripada usaha yang dibutuhkan untuk benar-benar membacanya.
3. Ketakutan Kehilangan (FOMO)
Dunia literasi terus bergerak cepat. Ketika sebuah buku menjadi viral atau memenangkan penghargaan, muncul dorongan untuk memilikinya segera agar kita tetap relevan dalam percakapan intelektual, meskipun kita belum tahu kapan punya waktu untuk menyelesaikannya.
Sisi Positif: "Antilibrary" Nassim Taleb
Mungkin Anda merasa bersalah melihat tumpukan buku tersebut. Namun, penulis dan pemikir Nassim Nicholas Taleb memiliki pandangan yang berbeda.
Dalam bukunya The Black Swan, ia memperkenalkan konsep Antilibrary.
Taleb berargumen bahwa buku-buku yang belum dibaca jauh lebih berharga daripada yang sudah dibaca. Mengapa?
* Pengingat akan Ketidaktahuan: Rak buku yang penuh dengan hal-hal yang belum kita ketahui membuat kita tetap rendah hati.
* Sumber Referensi Instan: Saat suatu hari Anda membutuhkan informasi spesifik, "perpustakaan pribadi" Anda sudah siap menyediakan jawabannya.
* Stimulasi Visual: Melihat tumpukan buku bisa memicu rasa penasaran dan kreativitas secara bawah sadar.
Tips Mengelola Kebiasaan Tsundoku
Jika tumpukan buku mulai membuat Anda stres alih-alih terinspirasi, berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengelolanya:
Jangan membeli buku baru sebelum menyelesaikan (atau menyumbangkan) satu buku dari rak.
Luangkan waktu untuk menyortir buku. Jika sebuah buku tidak lagi menarik minat Anda setelah setahun, berikan kepada orang lain.
Alih-alih menargetkan satu bab, targetkan membaca hanya 5 halaman sehari.
Jangan merasa berdosa jika berhenti membaca buku yang membosankan. Waktu Anda terlalu berharga.
Kesimpulan
Menjadi seorang praktisi Tsundoku bukanlah sebuah dosa intelektual. Itu adalah bukti bahwa Anda adalah orang yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki harapan besar terhadap pengembangan diri. Buku-buku di rak Anda adalah janji untuk petualangan masa depan.
Jadi, lain kali bila Anda merasa bersalah karena membeli buku baru padahal masih ada sepuluh buku yang belum dibuka, ingatlah: Anda tidak sedang menumpuk sampah, Anda sedang membangun gudang ilmu yang menunggu waktu yang tepat untuk digali.
#Tsundoku #KebiasaanMembaca #TipsLiterasi #PsikologiBuku #Antilibrary #PencintaBuku #BudayaMembaca #SelfDevelopment #BookLoversIndonesia

Komentar
Posting Komentar